Kamis, 30 Agustus 2012

Indonesia Harus Open Source !

Indonesia Harus Open Source!, Mengapa?

Indonesia adalah salah satu negara yang jumlah penduduknya sangat banyak. Dari data yang saya dapat dari publikasi BPS pada bulan Agustus 2010, jumlah penduduk Indonesia berdasarkan hasil sensus ini adalah sebanyak 237.556.363 orang, yang terdiri dari 119.507.580 laki-laki dan 118.048.783 perempuan. Hal ini tentunya berkaitan erat dengan perkembangan teknologi di Indonesia. Dengan jumlah penduduk yang sebanyak itu, maka kebutuhan teknologi di Indonesia semakin meningkat. Menurut Kuncoro Budy Prayitno (anggota tim Tekno-Meter Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)) bahwa Indonesia menempati peringkat ke-46 di dunia dalam bidang kemajuan teknologi. Penilaian pemeringkatan itu, menurut dia, berdasarkan pada tingkat kesiapan teknologi (TKT) yang antara lain meliputi inovasi teknologi dan teknologi siap pakai. Kemajuan teknologi ini bukan hanya mencakup satu aspek, namun diukur dari semua aspek teknologi termasuk didalamnya kemajuan teknologi di bidang IT( hardware dan software ).

Tidak terlepas dari data-data diatas, lalu apa hubungannya dengan Indonesia Harus Open Source?. Tentu saja ada hubungannnya, dengan meningkatnya kebutuhan teknologi dibidang IT khususnya kebutuhan perangkat lunak (software) juga akan meningkat. Tidak dapat dipungkiri bahwa perangkat lunak yang paling sering kita gunakan saat ini 90%nya adalah berbayar. Kita sebut saja, mulai dari Sistem Operasi yang kita gunakan adalah sistem operasi yang tidak gratis bukan?, kecuali anda sudah menggunakan sistem operasi open source. Namun saya bisa menjamin bahwa 90% dari pengunjung blog ini pasti menggunakan sistem operasi berbayar. Itu hanya sistem operasinya saja, belum lagi aplikasi-aplikasi didalamnya seperti office, pengolah gambar, video dan aplikasi multimedia lainnya yang tidak gratis.

Tahukah anda, berapa biaya yang anda keluarkan untuk membeli sebuah PC jika tidak menggunakan software open source?, sangat mahal bukan?. Kita mungkin beranggapan "Kan banyak software bajakan Mas?", jika Kita adalah salah satu orang yang beranggapan seperti itu maka kita adalah salah satu orang yang menyebabkan kerugian di negara ini. Pada April 2012, International Data Corporation merilis Indonesia menempati peringkat kesebelas dengan peredaran software bajakan sebesar 86 persen. Kerugian akibat maraknya penggunaan software atau perangkat lunak komputer mencapai US$ 1,46 miliar atau Rp 12,8 triliun. Jumlah uang yang sangat besar, jika disedekahkan kepada rakyat yang tidak mampu, makan kemiskinan di Indonesia akan berkurang. Jika kita sudah terbiasa menggunakan aplikasi bajakan dan terus berlanjut kepada generasi muda berikutnya maka kerugian yang ditimbulkan akan jauh lebih besar.

Bagaimana menanggulangi dan meminimalisir masalah tersebut?.
Indonesia Harus Go Open Source!. Marilah  kita meyadari dan mau mencoba menggunakan aplikasi-aplikasi open source, mulai dari sistem operasi, aplikasi office, aplikasi multi media dan lainnya. Perlu anda ketahui banyak perangkat lunak yang open source yang tidak kalah canggihnya dengan perangkat lunak berbayar. Jika anda tidak mengetahui dan buta terhadap dunia open source, bergabunglah ke milis, forum, website, blog dan lainnya yang membahas seputar perangkat lunak open source. Karena banyaknya perangkat lunak open source, maka saya tidak mendefenisikannya pada artikel ini. Anda dapat bergabung atau ikut dalam Indonesia Linux Conference sebuah acara Konferensi Linux Berskala Nasional yang akan diadakan di Malang. Banyak hal yang di bahas dalam acara ini, bagi anda yang berada di sekitar malang silahkan hadir untuk lebih mengetahui tentang dunia open source.

Bagaimana perkembangan dunia open source di Indonesia?.
Perkembangan Software Open Source di Indonesia sebenarnya masih rendah, padahal sudah jelas software open source  tidak mengeluarkan biaya dan dapat menghemat pengeluaran  negera. Untuk itu kita harus mendukung gerakan Indonesia go open source dengan memakai software open source baik dirumah, di sekolah, di kantor, bahkan di pemerintahan sekalipun.


0 komentar: